Tuesday, February 17, 2015

Laila Sulami, bagian I: Perempuan Revolusioner

“Nak, Laila, bangun Nak!! Bukankah Hari ini kamu masuk kuliah? Nak, Bangun!!” Ibu menarik selimut dan menggoyang-goyangkan tubuhku yang malas ini dengan kedua tangannya. “Sudah jam tujuh pagi, kau tidak mengindahkan kewajibanmu terhadap Tuhan—kau tidak solat subuh, ingat! Kau sudah dewasa, Nak!” entah sudah berapa kalimat kata-kata rujukan Ibu kepadaku untuk mencoba membangunkanku.
“Anak tak tahu di untung! Pukul saja dia, Bu. Biar sadar dari tidurnya! Jangan kau manjakan dia, Bu!” suara Ayah yang menggeram-geram, menggetarkan jantung bagi yang mendengarnya. Saya pun terbangun dari raungan suaranya. Tampak ayah sedang duduk membaca koran, terlihat di ruang tamu berada di samping kamar tidurku. Asap rokok keretek menggumpal di depan wajahnya, rokok yang di apit kedua jarinya dia tusukan ke asbak yang sudah penuh dengan pentung, dan dia lipat koran, kemudian membantingkannya ke kemeja. Sehingga, gelas yang berisi kopi hitam itu terguncang, airnya membasi taplak meja “Tak pantas, kau Laila, seorang gadis bangun sesiang ini. Cepatlah kau bersihkan badanmu dan carilah ilmu.” Gertakan Ayah membuat saya terperanjat.
Saya bergegas menuju kamar mandi meninggalkan ibu di kamar. Setelah itu, saya kenakan pakaian kebesaran Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Hari pertama saya kuliah di jurusan Administrasi Negara, mungkin akan telat. Saya lihat jam berada dilengan menunjukan pukul delapan, sedangkan menuju kampus membutuhkan lebih dari sejam waktu perjalanan: menaiki dua kali kendaraan umum, dan berjalan kaki terlebih dahulu, sekiranya satu kilometer untuk sampai pada jalan raya. Rumahku memang jauh dari keramaian perkampungan—terpencil, entah kenapa orangtuaku memilih tempat rumah yang jauh dari mana-mana ini.
Sesampainya di kampus, saya lihat kembali jam pada lengan kiri, jam setengah sepuluh. Padahal jam kuliah dimulai pukul sembilan. Aduuuh! Saya tutup wajah dengan kedua telapak tangan. Saya nampak gugup untuk memasuki ruangan kelas, detak jantung berdegup kencang. Kaki-ku enggan melangkah, seperti tertahan tanah. Tersirat dalam benak hati: apa yang akan terjadi? Apakah dosen akan marah? Atau teman-teman akan menertawai-ku? Terlihat dalam bias pintu kaca, dosen yang berbadan gemuk itu sedang berbicara di depan dalam kelas, membuat saya semakin gugup. Saya ketuk pintu kaca dengan kepalan tangan tiga kali, kemudia saya dorong kedepan, setelah itu saya masukan kepala saya.
“Permisi, Maa..” saya lihat dalam kelas, hanya lima orang. Lima mahasiswa! Kemana yang lainnya? Bukankah saya terlambat setengah jam! Saya masukan tubuhku dalam ruang kelas, dan melangkah “Maaf, saya terlambat!” ucapku, terengah-engah kecapean.
“Silahkan duduk” jawab pak dosen mata kuliah filsafat. “Siapa namamu?” belumlah saya duduk dikursi, dosen itu memanggil.
“Namaku Laila, Laila Sulami, Pak!” saya dudukan pantatku ke kursi, dan mengambil alat tulis.
“Dimana rumahmu? Melihat keringat di keningmu, Nampaknya rumahmu jauh sekali.”
“Kalabor Patana. Perbatasan dengan hutan konservasi, Pak!”
“Baru saya dengar derah itu,” dosen itu nampak bingung, terlihat tangannya menggarukan kepala. “Baiklah, kita mulai lagi, sampai mana kita?”
“Definisi filsafat, Pak!” sahut seorang laki-laki disamping kursiku.
“Iya, siapa yang tahu apa itu filsafat?” senyap,  tidak adak yang menjawab.
“Etimologi filsafat..” dosen melanjutkan “ Dalam bahasa Indonesia, merupakan kata serapan dari bahasa Arab: Falsafah. Yang juga diambil dalam bahasa Yunani: Philosophia. Apa itu Philosophia? Adalah kata majemuk yang berasal dari kata-kata (philia: Persahabatan, cinta dsb). Dan (sophia: kebijaksanaan). Sehingga, arti harafiahnya adalah seorang pencinta kebijaksanaan.....” Suara dosen yang keluar dari mulutnya membuat saya bingung. Kata-katanya saya tak mengerti, bahasa yang baru saya dengar di telinga. Mata kuliah filsafat, pelajaran pertama masuk kuliah, sebagai mahasiswa. Mahasiswa!
Tiba-tiba, seorang laki-laki masuk ruangan. Rambutnya panjang, berkumis tipis, mengenakan kemeja kotak-kotak putih-biru. Masuk tanpa permisi dan duduk tanpa dipersilakan. Tidak membawa tas! Siapa dia? Dia menengok ke samping, menuju pandanganku yang sedang memperhatikannya. aku palingkan muka kedepan, kearah dosen berada. “...Jadi, filsafat itu adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Contoh sederhana: apa arti dari nama kalian? Ada yang tahu?” bola mata dosen itu melirik dengan bantuan leher yang digerakannya perlahan. Tidak ada yang menjawab, dan tidak ada yang mengacungkan tangan. Dan tepat di hadapanku, lirikan mata sang dosen berhenti.
“Kau, Laila, apa tadi nama panjangmu?”
“Laila Sulami, Pak” jawabku
“Tahu kau apa arti dari namamu itu?” semua mahasiswa menatapku.  Begitu pula dengan laki-laki itu, tersenyum melihatku, menunggu jawaban yang keluar dari mulutku.
“Tidak tahu, Pak!” dosen itu melihat jam pada lengannya.
“Baiklah, kuliah untuk saat ini kita cukupkan. Tugas kalian adalah mencari tahu arti dari nama kalian sendiri.”
Selesailah Mata kuliah pertama. Selanjutnya, ada tiga mata kuliah yang akan  kupelajari hari ini. Dihari pertama masuk sebagai mahasiswa, aku berkenalan dengan teman-teman sekelas. Tanpa terkecuali dengan lelaki misterius itu, entah kemana setelah selesai kuliah filsafat.
Dosen mata kuliah terakhir tidak ada, dosen mata kuliah Bela Negara/Kewiranegaraan. Yang akhirnya, Karena tidak ada kegiatan lain,  saya pulang lebih awal.
Setibanya di depan rumah, Ayah sedang menyabuti rumput di pekarangan. Merasa aneh, nampak melihat kepadaku penuh keheranan.
“Hey! Kau bolos kuliah? Dasar kau! Ayah kuliahkan kau, bukan untuk main-main,” suaranya membuat saya takut. “Masuk kau ke rumah.”
Saya berlari ke dalam rumah dengan kesal. Terdapati Ibu sedang bersantai di lantai.  
“Ada apalagi, Ayahmu berteriak-teriak? Kenapa kau, nak, pulang begitu cepat?” Tanya ibuku keheranan.
Saya duduk disamping ibu, dan mulai bercerita. Tentang: kampus, masuk kuliah terlambat, dosen, teman-teman, kenapa saya pulang cepat dan ... menanyakan tentang arti dari namaku.
“Hmmm...arti dari namamu, ya?” bola mata Ibu yang coklat kemerahan itu menengok ke atas, mengingat-ingat dan Ibu mulai bercerita. “Laila Sulami. Laila itu artinya malam yang gelap.”
“Lalu, Sulami?” selaku.
“Sulami...” nampak airmuka ibu berkaca-kaca. Ibu diam sesaat, wajahnya semakin memucat.
“...Sulami adalah nama dari teman Ibu, dia juga yang mempertemukan Ibu dengan Ayahmu . Seorang perempuan Revolusioner. Seorang yang berjuang melawan akar penindasan terhadap perempuan. Dia adalah Wakil Sekjen dari organisasi Gerakan Wanita Indonesia Sadar, organisasi wanita pertama di indonesia. Dengan organisasinya, dia berjuang untuk wanita indonesia dari belenggu penindasan, dan organisasi itu menyikapi tentang: penolakan poligami, menolak perkawinan dibawah umur, menolak kekerasan seksual terhadap wanita serta memperjuangkan hak waris bagi wanita. Bahkan, Sulami ikut memanggul senjata untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia pasca Proklamasi 17 Agustus 1945.
Tidak hanya itu, organisasi kaum hawa itu menolak keras mengenai budaya feodal dan sistem ekonomi-politik kolonialis dan kapitalis. Dia—Sulami, yang kini terdapat dalam namamu itu, adalah seorang wanita yang berideologikan kiri. Organisasi yang berdiri sejak tanggal 4 Juni 1950, aktif dalam kampanye dan aksi-aksi menuntut pembatalan hasil Konferensi Meja Bundar, menentang kembalinya modal asing dan mengutuk peristiwa reaksioner peristiwa 17 Oktober 1955 (upaya sejumlah perwira AD mengkudeta Bung Karno dan membubarkan parlemen). Dari keteguhan hatinya untuk memperjuangkan hak-hak wanita indonesia, dia terpilih sebagai wakil dari indonesia dalam kongres wanita sedunia di Wina, Austria.
Pada tahun 1954, Organisasi wanita ini bergabung dengan partai merah, partai yang pertama mengenakan kata Indonesia, jauh sebelum indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Jelas, partai ini mendukung dan memperjuangkan hak-hak wanita dari penindasan. Partai pertama yang memperjuangkan hak wanita.
Selain poligami dan isu-isu kewanitaan, spektrum organisasi ini pun meluas. Sulami dengan organisasinya itu aktif dalam program Pemberantasan Buta Huruf (PBH) dan melakukan pendidikan usia dini, dengan nama: taman kanak-kanak melati, yang tersebar di berbagai pelosok daerah. Memang, organisasi ini memiliki tujuan untuk memajukan kesejahtraan perempuan dan anak-anak melalui pendidikan. Tidak hanya itu, organisasi ini juga membantu kaum tani, dalam mempertahankan hak-hak atas tanah dari pencaplokan aparat negara dan perusahaan perkebunan. Seperti pada kasus: Tanjung Morawa, Sumatra Utara (1955) dan kasus jengkol di Kediri (1957) dan masih banyak lagi yang Sulami lakukan di daerah-daerah untuk memperjuangkan Reformasi Agraria demi tercapainya kesejahteraan rakyat. Dalam kasus agraria itu, bersama partai merah, Sulami dan oraganisasinya itu ikut turun ke lapangan, berjuang dengan kaum tani dalam perlawanan untuk mendapatkan hak-hak rakyat atas tanah yang terampas.
Ingat! Jauh daripada itu, Sulami dan organisasinya ikut serta dalam menyikapi isu Nasional. Seperti halnya dengan kampanye untuk pembebasan Irian Barat, ikut melakukan politik konfrontasi Bung Karno, terhadap Malaysia. Ikut serta mendukung perjuangan nasional melawan Neokolonialisme, seperti yang di serukan Bung Karno kala itu. Seperti dengan partai merah juga, organisasi Sulami berdiri di belakang Soekarno dalam rangka mengganyang Nekolim. Walaupun! Organisasinya dicibir oleh organisasi lain sebagai ‘tutup mata’ terhadap poligami Soekarno. Akan tetapi, tidak meruntuhkan prinsip dalam menyerukan menentang poligami, karena kala itu—kontradiksi dari perlawanan rakyat Indonesia adalah melawan Nekolim.
Nak! Sulami itu mempunyai paras yang cantik. Kamu yang secantik ini, kalah dengan kecantikannya. Ibu pun menyadari semua itu. Namun, dengan kecantikannya itu, serta tutur kata yang sopan dan santun, juga kebaikan hatinya, ia gunkaan untuk menarik hati rakyat. Sehingga Sulami dan organisasinya itu pernah memobilisasi 15.000 wanita ke Istana Negara, saat peringatan Hari Perempuan Sedunia—1 maret 1961, menentang pembentukan boneka papua oleh kolonialis Belanda. Dan aktif mendukung gerakan buruh untuk menasionalisasi perusahaan asing, terutama perusahaan milik belanda. Langkah ini sekaligus upaya pemerintah Bung Karno untuk melikuidasi sisa-sisa ekonomi kolonial. Dalam kampanye nasionalisasi terhadap perusahaan minyak Caltex. Sulami dan SOBSI menggalang pembantu rumah tangga untuk memboikot majikan mereka. Aksi itu meluas ke restoran dan toko-toko untuk menolak orang asing.
Berlanjut pada tahun 1960-an, Sulami menggerakan organisasinya untuk berkampanye akan ketersediaan pangan dan sandang bagi rakyat. Tak hanya itu, dia juga melakukan aksi demonstrasi untuk menentang kenaikan harga bahan pokok. Salah satu aksi demonstrasi yang besar digalangnya untuk menolak kenaikan harga yang terjadi pada tahun 1960. Sehingga, Bung Karno merespon aksi tersebut dan berjanji akan menurunkan harga dalam tiga tahun.
Di desa-desa, Sulami giat bekerjasama dengan Barisan Tani Indonesia untuk membela dan memperjuangkan hak-hak kaum tani, seperti: hak atas tanah, pembagian hasil panen yang adil, dll. Juga sering Sulami menggelar kursus dan penelitian bagi perempuan tani di desa-desa. Serta aktif memperjuangkan dilaksanakannya UU Pokok Agraria 1960 dan UU perjanjian Bagi Hasil.
Banyak sekali nak! Banyak! Jasa-jasa Sulami dan organisasinya itu membantu rakyat Indonesia. Bahkan ibu hampir lupa, Sulami juga aktif memperjuangkan hak-hak buruh perempuan. Sehingga, dulu—Pada tahun 1950-an, Sulami berhasil mendesak Kongres Wanita Indonesia untuk mengadopsi piagam hak-hak perempuan, yang di dalamnya ada bab khusus tentang hak buruh perempuan, seperti: hak yang sama anatara laki-laki dan perempuan dalam memasuki semua pekerjaan dan promosi jabatan, kesetaraan upah, dan penghapusan segala bentuk diskriminasi di tempat kerja. Dengan Organisasinya, Sulami bersama SOBSI juga kerap menggelar aksi bersama: menuntut upah yang sama, cuti menstruasi dan hamil, hak perempuan mendapat promosi dan perlakuan yang sama di tempat kerja.
Setelah itu, Sulami dan Organisasinya mengalami masa-masa sulit dalam medan perjuangan. Sebuah malapetaka bagi Sulami dan organisasinya, dimana hal itu terjadi pada saat peristiwa gerakan satu Oktober. Sebuah pukulan balik dari kaum kontra-Revolusi yang gerah dengan perjuangan Organisasi Sulami. Kemudian, bersama partai merah, dan seluruh ormas yang beraliran kiri itu di tumpas oleh militer/Angkatan Darat didikan Soeharto bersama milisi-milisi sipil binaannya. Sulami, sebagai Wakil Sekjen Organisasi Wanita Indonesia Sadar. Dia menjadi target sasaran militer untuk di tangkap. Dalam hal ini, Sulami, harus hidup ‘nomaden’ selama 15 Bulan. Dalam pelariannya itu, dia masih sempat menjadi anggota panitia pendukung komando presiden Soekarno, sebagai loyalitasnya dalam mendukung sang proklamator disaat semakin masifnya aksi-aksi demonstrasi anti Bung Karno dan Anti golongan kiri. Di persembunyian—dalam perlarian, Sulami menerbitkan buletin bernama: Pendukung Komando Presiden Soekarno.
Namun, pelariannya berakhir pada Bulan Februari 1967. Sulami ditangkap militer atas perintah langsung Panglima Kodam Jaya Amir Machmud. Sulami dijebloskan ke tahanan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Dari sejak itulah, Ibu dan Ayahmu tak bertemu dengannya lagi.
Dalam penjara, Sulami kerap disiksa dan diperlakukan tidak senonoh oleh aparat. Yang menyebabkan Sulami menderita sakit dari siksa fisik dan juga psikis. Dia di perlakukan seperti itu, dimana saat kala itu dia dan organisasinya sedang memperjuangkan dan melawan atas penindasan wanita. Penyiksaan itu dirasakan juga oleh kader-kader partai merah dan soekarnois pada masa yang sama....” air mata ibu membasahi baju, jatuh meleleh dari mata coklat kemerahannya itu. Bersedu, mendesah. “...Kau tahu, Sulami—Anakku, kenapa dia—Sulami, bernamakan seperti namamu? Dulu Ibu menanyakan langung kepadanya, percis seperti kamu—anakku, menanyakan arti nama Sulami Kepada Ibu. Menurut Ibu Sulami: Sulami adalah nama dari seorang Sufi besaar, Sufi yang produktif menulis. Namanya As-Sulami, lengkapnya Abu Abdurrahman bin Al-Hussain bin Muhammad bin Musa As-Sulami Al-Azdi. Ia lahir di Khurasan, Iran, pada Tahun 325 H/937 M, dalam sebuah keluarga yang sangat taat beragama. Bahkan, kedua orangtuanya dikenal sebagai ulama dan sufi yang masyhur di Khurasan. Dalam sebuah suasana keluarga serba religius inilah yang mempengaruhi As-Sulami di kemudian hari. Pada saat Sulami berumur 15 Tahun, Ayahnya meninggal. dan Sulami diasuh oleh nenek dari pihak ibunya.
Sejak kecil, As-Sulami sudah mendalami Bahasa Arab dan Al-Quran sebagai basis untuk mempelajari berbagai hal mengenai Islam.
Banyak guru yang disebutkan Ibu Sulami, Nak, ketika Sulami menceritakannya pada Ibu ini. Tapi ibu lupa, Nak! Nama-nama arab yang rumit itu membuat ibu sulit mengingatnya. Kalau tidak salah ada sekiranya lima Guru-gurunya yang terkenal dikala itu. Dan As-Sulami mempelajari ilmu tafsir, hadis, fikih hingga tasawuf dari guru-gurunya itu. Belakangan itu, ia dikenal sebagai pakar hadis dan sejarah serta guru para sufi. Dimanapun ia berada: Nasaibur, Merv, Irak, Hijaz, As-Sulami selalu menulis.
Sejak usia delapan tahun, As-Sulami mendalami hadis bahkan kemudian meriwayatkannya. Dia belajar hadis dari beberapa guru yang mengarang kitab tasawuf ‘Hilyatul Awliya’ kepiawaiannya dalam ilmu hadis menjadikan As-Sulami sebagai rujukan banyak ulama. Banyak! Lebih dari duapuluh yang ibu tak bisa mengingat nama-namanya. Dengan banyaknya ulama  yang merujuk kepada As-Sulami, membuktikan bahwa mereka yang mengagumi As-Sulami mempunyai kedudukan yang tinggi dalam ilmu. Bahkan, Abdul Ghafir Al-Farisi berkata: ‘As-Sulami adalah seorang Syekh Thariqat (Jalan menuju kebenaran dalam tasawuf) yang telah dikaruniai penguasaan berbagai ilmu Hakekat dan Tasawuf. Beliau telah menulis sekitar 100 kitab tentang risalah tasawuf yang hebat’ dalam hal tasawuf, As-Sulami mengkaji kepada penulis kitab ‘Al-Luma fit Tasawuf’dan As-Sulami sering berdiskusi dengan sahabat-sahabatnya.
Selain dikenal dengan sufi yang besar, As-Sulami juga dikenal sebagai penulis, penulis kitab yang produktif. Ia menulis ketika masih berusia duapuluh tahun. Karya-karyanya meliputi sejumlah besar kitab dan risalah hadis dan tasawuf. Semua karyanya sekarang sebagai tumpuan, rujukan para ulama diseluruh dunia hingga sampai detik ini.
Sebagian besar dalam masa hidupnya, dihabiskan di perpustakaan untuk membaca dan menulis. Sampai beberapa bulan menjelang wafatnya pada Tahun 412H/1021M (ketika berusia 87 Tahun), ia masih berkarya. Hari-hari terakhirnya ia habiskan dengan bersunyi diri di sebuah pertapaan sufi di Naisabur, Iran. Disana pula ia wafat dan dimakamkan.   
Begitulah nak, penuturan Ibu Sulami yang di ceritakan kembali oleh Sulami kepada Ibu ini. Dan sekarang pula aku ceritakan kembali padamu, Laila Sulami—Anakku.
Oleh karena itu, Sulami juga piawai dalam menulis, dia telah menyumbangkan banyak tulisan, khusunya berbentuk cerpen yang isinya tentang kritik situasi ekonomi-politik nasional juga mengenai pergerakan perempuan, masalah-masalah perempuan, dll. Tulisan yang terkenal saat itu adalah cerpen yang berjudul Beberapa Pendapat Pengalaman Akan Gerakan Wanita Revolusioner. Dalam cerpen setengah fiktif ini, Sulami menuliskan hal unik yang dilakukan dirinya selaku tokoh dalam sebuah Organisasi perempuan dalam rangka membantu partai untuk menyelesaikan permasalahan para fungsionaris di daerah-daerah yang melakukan poligami, tanpa harus memecatnya. Sulami menerbitkan tulisan itu dalam majalah organisasinya, yang bernama Api Kartini. Sulami juga turut serta menjadi anggota redaksi tersebut, dengan: Maasje Siwi S, S Sijah, Darmini, Parjani Pradono dan SK Trimurti. Juga turut membantu redaksi: Rukiah Kertapati, Sugiarti Siswadi, Mr Trees Sunio, Rukmi B Resobowo, Siti Suratih, Sulistiowarni, Sutarni, Sudjinah dan Sarini.
Setelah mengalami masa-masa mengerikan ditahanan selama delapan tahun, Sulami baru diadili pada tahun 1975. Sebuah hal yang konyol dan mengerikan ketika: seorang tahanan dibui dan di siksa selama bertahun-tahun, baru kemudian di adili. Dalam pengadilan, yang penuh dengan manipulasi, Sulami divonis bersalah, dan harus mendapatkan hukuman 20 tahun dipotong masa tahanan.
Saat menjalani masa tahanan dijeruji besi, Sulami tidak hanya diam dalam hanyutan derita dan siksa. Ia kembali menggunakan kemampuannya dalam menulis. Dan membuat sebuah buku yang berjudul: Perempuan, Kebenaran dan Penjara (Kisah Nyata Dipenjara Selama 20 Tahun karena Tuduhan Makar dan Subversi). Buku yang diterbitkan pada tahun 1999—setelah rezim Soeharto tumbang, menceritakan pengalamannya selama berjuang di era perang kemerdekaan dan masa pra ‘65, hingga penderitaannya bersama tahanan lainnya di penjara.
Kau tahu, Nak, Orang-orang yang berada di tahanan bersama Sulami itu adalah orang-orang yang berpengaruh terhadap berdirinya republik ini: Orang-orang yang pintar—intelektual; orang-orang yang kritis.
Setelah bebas dari penjara, ketika tumbangnya kediktaktoran Orde Baru, Sulami tak berhenti di medan perjuangan. Bersama dengan kawan-kawan Tapol ‘65 lainnya: Pramoedya Ananta Toer, Hasan Raid, Koesalah Subagyo Toer, Sumini Martono dan dr.Ribka Tjiptaning, Sulami mendirikan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan ’65/66 di tahun 1999. Yayasan yang diketuai oleh Sulami sendiri tersebut dibentuk untuk meneliti dan mengungkapkan data korban pembunuhan masal tahun ‘65/66 yang mencapai tiga juta orang itu.
Bayangkan nak! Tiga juta orang dibunuh: disiksa, dipenggal, dibuang mayatnya kesungai dan pantai. Sungguh ironis sekali, Nak! Mereka itu, seperti yang Ibu ceritakan tadi: orang-orang yang berjuang melawan penindasan, membantu kaum tani mendapatkan haknya atas tanah, berjuang terhadap Indonesia dari Nekolim. Dan banyak jasanya demi terbangunnya rakyat Indonesia yang adil dan sejahtera. Tapi mati ditangan bangsanya sendiri. Bangsa yang mereka bangun!
Nak! Belumlah tuntas perjuangan Sulami dan kawan-kawannya melalui YPKP, takdir Tuhan menentukan lain. Sang Perempuan Revolusioner itu harus beristirahat dari medan perjuangan untuk selamanya. Nak! Seorang pejuang perempuan itu meninggal dihadapan Ayah dan Ibu. Dia meninggal tahun 2002, di usia 76 tahun. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Ibu dan Ayah juga memberitahukan kepada dia bahwa:
‘Sulami, Srikandi Merah, aku memberikan namamu itu kepada nama anakku. Anakku cantik, sama sepertimu. Walaupun kau sudah menjadi wanita tua, kecantikanmu itu tak pernah sirna. Juga, aku ingin anakku itu mempunyai jiwa Revolusioner, sama sepertimu.’
‘Jangan memanggilku berlebihan seperti itu....” suaranya tersendat-sendat lemah. ‘Aku senang, kau ingin jadikan anakmu itu sebagai penerus perjuangan terhadap bangsa ini. Ceritakanlah bangsa kita dulu, ceritakanlah bahwa ada sebuah organisasi wanita yang berjuang untuk melawan penindasan terhadap kaum hawa Indonesia. Dan ajari mereka untuk membaca dan menulis. Saya yakin, dengan begitu—mereka yang berilmu dan pendidikan, dapat mengetahui bahwa di negeri ini ada sebuah pembodohan masal—mereka akan tahu, selama lebih dari 30 tahun ini, bangsa kita ditidurkan—di nina bobokan oleh rezim Orde Baru. Butuh belajar dan menunggu waktu yang lama untuk menyadarkannya. Maka dari itu, beritahukanlah pada anakmu, siapa nama  panjangnya?’
‘Laila Sulami.’
‘Laila, sungguh indah nama dari bahasa arab itu.’
‘Benar, Aku ingat darimu—As-Sulami, sang Sufi besar dan penulis produktif itu. Maka dari itu, aku tambahkan nama berasal dari bahasa arab pada anakku.’
‘Kau masih ingat rupanya. Kalau kau perkenankan padaku, apa arti dari nama Laila itu?’
‘Aku tidak akan lupa: dirimu, organisasi Gerakan Wanita Indonesia Sadar, perjuanganmu, dan si diktaktor rezim Orba itu,’
Ibu tidak menceritakan bagian dari apa arti nama Laila, ketika bercerita kepadaku tentang sang perempuan Revolusioner itu. Ada yang disembunyikan, nampaknya ibu tidak mau aku tahu. Laila, seperti yang Ibu beritahukan dari awal yang berartikan: Malam yang gelap. Malam yang gelap? Aku berhenti berpikir, dan kembali mendengarkan cerita Ibu dan Sulami—teman Ibu.
‘Jangan kau lupa, jangan sampai bangsa ini lupa dengan sejarah kelam itu. Kau tahu? Saat aku tak berjumpa lagi denganmu, kala itu aku telah tertangkap.  pada saat di dalam penjara penuh dengan siksa. Saat penyiksaan tersebut, aku membayangkan bagaimana pengorbanan rakyat Vietnam yang sedang berjuang mengusir Imperialis, yang lebih berat dibanding dengan siksa yang aku alami saat itu.’
Dan kata-kata terakhir Sulami pada saat itu adalah begini:
‘pembantaian yang menewaskan jutaan orang pada tahun 1965/1966 tanpa proses peradilan itu adalah tanggung jawab penuh  Soeharto, selaku pimpinan militer.’
Begitulah, Nak! Kata-kata terakhir dari perempuan revolusioner yang tertera dalam nama akhirmu itu. Sulami, seorang perempuan yang disiksa, dikriminalisasi oleh bangsanya sendiri. Seorang yang berjuang untuk kaum wanita Indonesia dari segala penindasan, membela kaum tani dan buruh. Menentang dan menolak budaya feodal dan sistem ekonomi-politik kolonialis dan kapitalis.”
            Ibu merapatkan bibirnya, selesailah cerita dari sebuah nama. tak kusadari, Ayah tengah berdiri, bersandar pada pintu. Ibu menyeka air mata yang meleleh di pipinya. Kehadiran Ayah, membuatku kembali ketakutan. Tak diperintah, aku masuk kamar, Bersambung...
           
            

Sunday, January 11, 2015

Doa Nelayan

Lihatlah!
Bupati kita sedang mancing
Bersantai untuk refresing
Tertawa, Beria-ria

Lihatlah!
Nelayan sedang tenggelam
Dalam duka nestapa
Ditangkap, dipenjara
Saat menjaring ikan dilaut

Bupati sibuk dengan pancingan
Rakyat sibuk mencari keadilan

Rakyat menjerit pesakitan
Bupati menjerit mendapatkan ikan

 Oh, Tuhan
Kau ciptakan ikan-ikan dilautan
Tapi bukan untuk nelayan

Kau ciptakan Ikan-ikan yang lezat
Tapi nelayan tak bisa menjaringnya
Kau ciptakan ikan-ikan laut
semuanya halal dimakan
Tapi haram untuk nelayan

Tapi ,
Itu bukan salahmu Tuhan
Ya, itu bukan salahmu

Tapi,
Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja
Nelayan berhak menjaring ikan
Nelayan berhak menyantap ikan
Ya, Nelayan berhak

Oh, Tuhan
Sadarkanlah Bupati kita yang masih sibuk dengan pancingannya


Candra, Pandeglang, 11 Januari 2015

Bangkit dan Melawan

Rebah-rebah lemas
Berbekas luka berlawan
Menghentikan tiran yang menawan
Rakyat jadi korban
Haus kekuasaan

Kesakitan nampak belum pudar
Namun, langkah juang jangan sampai buyar
Untuk mencapai kedaulatan
Rakyat harus tetap melawan

Korban-korban kian berapi-api
Berkobar-kobar  bisik hati
Mata merah tajam kemarah-marahan
Bersiap tuk pemberontakan

Bangun
Bangkitlah
Mari kita lawan!
Berjuang untuk kedaulatan


Candra, Pandeglang, 11 Januari 2015

Monday, January 5, 2015

Jangan Sampai Rakyat Ujung Kulon Yang Menjadi Hakimnya


Tiga bulan sudah, Damo, Rahmat dan Misdan berada dibui. Sejak dari tanggal tiga Oktober tahun lalu, sampai pada pergantian tahun menjadi 2015. Namun, Pengadilan Negri Pandeglang belum jua mendapatkan kepastian. Padahal telah enam kali peradilan diselenggarakan.
Nampak kekesalan pada ketiga nelayan yang ditangkap dengan tuduhan menangkap ikan di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon ini. Ketika menemui mereka pada persidangan ‎23 ‎Desember ‎2014, di PN Pandeglang. Menuturkan “Hampir tiga bulan kami ditahan, namun belum mendapatkan kepastian dari pengadilan. Walaupun di penjara seruangan banyak orang, namun kami jenuh”.
Begitu pula dengan istri-istri dari Damo, Rahmat dan Misdan: Juminah, Suheti dan Sanawati. Juminah Menuturkan”dengan keadaan sedang hamil, suami saya malah ditangkap. Lantas, siapa yang akan membiyayai keluarga.” Para istri nelayan ini merasa kesepian, dan merasa kehilangan kepala keluarga mereka.(Candra)

Friday, December 26, 2014

Surat Untuk Ibu Pertiwi, Kabar Dari Rakyat Ujung Kulon

Kepada Ibu Pertiwi, surat ini aku sampaikan. Dengan rasa hormatku padamu, izinkan aku menceritakan sedikit kisah kepadamu, melihat sisi lain bangsa ini. Saya akan tunjukan kepada Ibu Pertiwi dan seluruh anak bangsa, bahwa kemerdekaan yang telah sampai pada 69 Tahun ini, belum dirasakan oleh masyarakat. Salah satunya yang berada di ujung barat pulau Jawa. Ya, di Ujung Kulon. Kecamatan Sumur, Pandeglang. Mungkin, air mata ibu akan berlinang juga terlara-lara mendengar dan melihat kejadian ini. Melihat hutan, gunung, sawah dan lautan simpanan kekayaan. Namun, mereka tidak merasakan kekayaan tersebut.

Dimulai pada tanggal 3 oktober 2014, tepatnya hari Jumat Pukul 11:00, nelayan yang bernama: Damo, Rahmat dan Misdan di tangkap oleh petugas Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Dengan tuduhan menjaring hewan yang dilindungi dan masuk dalam kawasan Ujung Kulon.

Lihatlah, wahai Ibu Pertiwi..!!. Saya pilu, melihat kejadian ini. Indonesia memang negara yang sangat kaya, aku akui itu. Namun, tidak untuk warga Ujung Kulon. Mereka tidak bisa merasakan dan menikmati kekayaan alam yang ada. Padahal, Damo, Rahmat dan Misdan hanya mengambil beberapa ikan untuk dijual, untuk menghidupi keluarganya. Mereka melaut terpaksa karena untuk mempersiapkan kebutuhan hari Raya Idul Adha. Peralatan untuk menangkap ikan pun masih tradisional. Bahkan, diantara mereka bertiga hanya dua sampai tiga kali melaut. Sebelumnya mereka berprofesi sebagai tani. Akan kebutuhan yang mendesak, mereka terpaksa melaut.

Apabila masyarakat Ujung Kulon tidak bisa menikmati kekayaan alam, lantas untuk siapa kekayaan alam tersebut?. Aku masih ingat apa yang Ibu katakan padaku. Bahwa ”Bumi, air dan udara dan kekayaan alam yang ada didalamnya dikuasai oleh negara, dan dipegunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Namun liahtlah, itu tidak seperti kenyataan yang Ibu katakan. Lantas, kekayaan alam tersebut untuk kemakmuran dan kesejahtraan rakyat yang mana? Aku tak kuasa apabila mendengar dan melihat keadaan seperti ini. Apakah dengan alasan melindungi hewan dan hutan? Lantas, apakah mereka lebih mementingkan hewan dari pada kehidupan manusia?. Tak kusangka, air mataku berlinang. Apakah ibu bisa merasakannya juga?, Kepahitan Rakyat Ujung Kulon.

Melihat kejadian itu, harus ada tindakan. Oleh karena itu, Saya dan teman-teman turun kejalan bersama masyarakat Ujung Kulon, keluarga korban dan organ mahasiswa. Pada tanggal 17 November 2014 menuju pengadilan Pandeglang, bertepatan dengan sidang yang pertama. Ada yang membuat saya tercengang. Seseorang yang berorasi dengan penuh emosional. Terdengar kekecewaan terhadap pemerintah; warga Ujung Kulon yang tertangkap karena hanya mengambil kepiting untuk menghidupi keluarganya. Namanya Kusroni, salah satu anak bangsa yang mempunyai semangat juang. Hati saya pun bergetar ketika mendengar orasinya. Membuat saya yakin akan perjuangan ini. Membantu pembebasan Rakyat yang terbelenggu TNUK.

Setiap ada persidangan kami pun hadir untuk melakukan aksi. Namun, pada tanggal 9 Desember 2014, sidang yang ke-4 kalinya ini Mengalami musibah terhadap warga Ujung Kulon. Mobil yang mengantarkan warga untuk aksi di pengadilan terjadi kecelakaan. Yang berakibatkan 20 orang warga luka-luka, 17 orang luka ringan dan 3 orang luka parah. Namun, aksi untuk mendukung pembebasan Damo Cs harus tetap berjalan. Lagi-lagi saya dibuat tercengang oleh Kusroni. Ketika berorasi, dia terlihat menggeram. Bahkan, dengan lantang dan tegas dia berteriak “saya rela mati, asal Damo, Rahmat dan Misdan di bebaskan sekarang juga”. Mungkin dia  terpukul melihat warga Ujung Kulon mengalami kecelakaan. Demi membantu pembebasan mereka harus mengalami rasa sakit dan berdarah-darah.

Lihatlah Ibu Pertiwi, mereka harus mengeluarkan darah demi memperjuangkan pembebasan Damo, Cs. Dan tidak hanya itu, mereka berjuang agar tidak ada lagi Damo-Damo, Cs selanjutnya yang ditangkap oleh TNUK. Dan itu harus diperjuangkan, walau nyawa jaminannya. Agar hal ini tidak terjadi lagi oleh anak-anak bangsa selanjutnya.

Kesedihan dirasakan ketika mengunjungi korban yang parah di rawat RS Pandeglang. Aku tak kuasa melihatnya Ibu. Aku tak bisa menahan kepahitan ini. Apalagi melihat raut wajah keluarga korban, yang terpukul melihat kejadian ini. Cobaan apalagi yang akan kau berikan ya Tuhan. Sudah cukup derita ini, derita terhadap Rakyat Ujung Kulon. Sehingga saya terisak-isak, menghentikan sejenak menulis ini. Tanganku bergetar, sehingga tulisanku dengan pena ini tak berarah . Kertas untuk menulis pun tak kusadari tertetes air mata, sehingga melunturkan kata yang tertulis pena.

Saya mengalami kelemahan tubuh, karena sering bergadang. Namun, hal ini tidak mengurungkan semangat perjuangan. Pada malam sabtu tanggal 20 Desember 2014, saya berangkat menuju Ujung Kulon Bersama Teman-teman untuk menghadiri Konsolidasi Rakyat Ujung Kulon yang akan dilaksanakan pada hari Minggu. Setelah empat jam perjalanan, saya sampai pada tujuan. Bertempatkan di kampung Cikaung, desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang. Pertama saya injakan kaki disana, saya melihat baliho yang sangat besar yang bertuliskan tuntutan-tuntutan Rakyat Ujung Kulon: Hentikan intimidasi dan kriminalisasi rakyat Ujung Kulon; Bebaskan Damo, Rahmat dan Misdan sekarang juga; Kembalikan hak-hak rakyat Ujung Kulon atas tanah yang dirampas Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dan Laksanakan reforma agraria sejati. Selain itu saya melihat dan beristirahat dipanggung sederhana, beratapkan terpal dan darisan meja-meja untuk alas.

Pada hari minggu pukul sebelas acar pun dimulai. Banyak sekali masyarakat yang hadir dalam acara ini, yakni dihadiri oleh dihadiri oleh 14 Desa yang terdiri dari Kecamatan Cimanggu, dan Sumur. Selain itu, hadir pula organisasi mahasiswa dan lembaga yang berada di Banten antara lain: KUMAUNG, JMHI, FPPI, HIMALA UNMA, MAPALAUT, TARUNG, JKPP, SAINS, HUMA, LBH JAKARTA, SAHABAT Ujung Kulon, STUK, AGRA. Serta hadir tokoh Banten Selatan: H. Ali Balfas, Tarim, M. Sahri. Banyaknya orang yang mendukung membuat perjuangan ini semakin kuat. Lihatlah Ibu Pertiwi, warga Ujung Kulon tidak sendiri. Kami berkumpul serta menyatukan pikiran dan kekuatan  semangat juang untuk mendapatkan kembali hak-hak Rakyat Ujung Kulon yang dirampas oleh TNUK. Hal ini membuat saya tak terlarut dalam kesedihan. Namun, membuat saya dan Rakyat Ujung Kulon semakin bersemangat dalam berjuang.

Dalam acara ini, banyak orang yang berpidato dan berorasi. Namun, ada satu orang yang lagi-lagi menggetarkan hati saya, Ibu Pertiwi. Dia adalah ibu Jumsi’ah, Ibu Pertiwi!. Seorang nenek-nenek yang semangat juangnya tak pudar sama sekali. Ketika beliau berorasi, dengan pekikan emosional, membuat tangan saya bergetar ketika memegang kamera seraya merekam. Teriakannya yang bergumam, terdengar keras oleh telinga saya. Seketika hati saya menjadi bergetar mendengarnya, dan menahan isak haru, menahan air mata yang akan menetes. Saya berpikir, beliau walaupun sudah tua, namun, semangat tak gentar. Dan saya yang masih muda, tak pantas untuk lemah dalam berjuang.

Setelah itu, dilanjutkan dengan ceramah yang suarakan oleh KH. Sarmedi, salah satu tokoh agama islam di Ujung Kulon yang ikut berjuang. Tidak hanya berceramah, namun ikut berjuang dari awal mengikuti perkembangan persidangan. Bahkan ikut melakukan aksi kejalan. Membuat saya terkenang pada tokoh-tokoh ulama seperti KH. Achamad Chatib dan H. TB. Emed putra Kiyai Asnawi Caringin. Pada saat pemberontakan ulama-komunis Tahun 1926 melawan kolonial Belanda dan para pejabat: Bupati atau Pamong Praja(berasal dari luar Banten). yang selalu tunduk pada kehendak pihak kolonial, sekalipun mengorbankan kepentingan rakyat. Ibu Pertiwi, Mungkinkah sejarah akan terulang kembali!!.

Kemudian, setelah malam tiba. Masyarakat Ujung Jaya menonton Film Soekarno untuk menghibur dan menyemangati perjuang ini. Dan masyarakat pun antusias melihat beramai-ramai sampai pada pukul sebelas malam, diakhiri dengan turunnya hujan.

Esok Hari, saya mengunjungi keluarga Damo dan Rahmat, yang memang masih bersaudara serta rumahnya pun berdekatan. Pertama saya bertemu dengan kakak ipar dari Damo, yaitu Bapak Usup. Saya mendengarkan cerita bagaimana kronologi Damo, Rahmat dan Misdan sampai bisa tertangkap oleh petugas TNUK. Setelah itu, saya menemui istri dari Damo di rumahnya yang sederhana; rumah panggung dan berdindingkan bilik. Dengan suara tertahan-tahan, Juminah bercerita tentang kehidupannya setelah ditinggal Damo yang di bui. Juminah yang sedang hamil muda ini hanya dua kali berjumpa dengan suaminya di bui. Bukan karena tidak mau, namun Juminah tidak punya cukup uang ongkos ke Pandeglang. Ketika saya bertanya dengan menyebutkan nama Damo, wajahnya pucat dan lemas. Seketika, saya pun ikut merasakan pukulan dari keterpisahan mereka berdua. Melihat hal itu, saya tidak banyak bertanya.

Lihatlah Bu..!! keluarga yang kesakitan; terlara-lara. Apakah tega melihatnya? Padahal, Damo, Rahmat dan Misdan berjuang untuk menghidupi keluarganya. Karena peraturan yang tidak memihak pada Rakyat Kecil, akhirnya mereka yang menjadi korban.

Saya berjalan berserta kepiluan menuju rumah Opur yang menjadi korban kecelakaan yang paling parah. Sesampainya dirumah yang sama keadaanya dengan rumah Damo, saya bertemu Opur yang tengah berbaring lemas. Dengan bermaksud menyambut saya, dia mengangkat perlahan-lahan dengan menahan sakit lengan kanannya sembari berjabatan. Luka-luka yang masih tampak di kepala, lengan kanan dan kiri menunjukan sakitnya begitu parah. Ditambah dari keterangannya bahwa lehernyapun patah sehingga tidak bisa banyak bergerak. Saya langsung berfikir dalam benak hati, mungkin dengan kecelakaan ini akan membuat Opur akan kehilangan semangat juangnya. Namun, sangkalan itu tidak tepat. Dengan terjadinya kecelakaan ini, yang membuat dirinya terbaring tidak menggoyahkan perjuangannya dan tidak menyesali kecelakaan tersebut (Hal tersebut dikatakan juga oleh korban-korban kecelakan lainnya).  Opur yang berprofesi petani ini akan tetap berjuang walau nyawa menjadi taruhannya. Demi mengembalikan hak-hak Rakyat Ujung Kulon yang terampas TNUK.


Ibu Pertiwi, ini Perjuangan Rakyat Ujung Kulon yang gigih. Mengorbankan nyawanya untuk membebaskan belenggu TNUK. Tidak hanya Opur, namun ribuan warga Ujung Kulon yang terdiri 14 Desa dari kecamatan Sumur dan Cimanggu yang akan berjuang sampai titik penghabisan untuk mendapatkan hak-haknya walaupun sampai berdarah-darah. Jangan sampai Rakyat Ujung Kulon menjadi hakimnya sendiri: Utang padi dibayar padi; Utang ikan dibayar ikan; Utang darah dibayar darah. Jangan sampai semua itu dipaksa terjadi di Bumi Ibu Pertiwi..!!.(Candra)

Sunday, December 21, 2014

Kronologis Pembubaran Pemutaran film SENYAP di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Banten Raya (STISIP BR)

8 Desember 2014, Mahasiswa STISIP BR Mohammad Khotim Ali mendaftar untuk mengadakan pemutaran film senyap melaluiwww.filmsenyap.com. Rencananya, pemutaran akan dilakukan di kampus .
10 Desember 2014 bertepatan dengan hari peringatan Hak Asasi Manusia (HAM) dilakukan pemutaran film Senyap karya Sutradara Joshua Openheimer di seluruh kota Indonesia, kecuali di kampus STISIP BR, Sebab paket film belum dikirimkan.
11 Desember 2014, panitia mengadakan diskusi untuk mengkaji film tersebut dengan bahan sinopsis film yang diperoleh dari internet.
14 Desember 2014, panitia mendapatkan kiriman paket yang berisi satu keping CD Film Senyap, brosur pengantar dan poster film.
15 desember 2014, panitia mengadakan nonton bareng (nobar) dan pengkajian ulang mengenai film. Setelah itu diputuskan bahwa film akan diputar dan langsung menyusun pembagian kerja.
16 Desember 2014, panitia mengirim surat pemberitahuan kepada pihak akademisi untuk permohonan peminjaman tempat. Izin lisan diberikan Yayan selaku pihak akademik STISIP BR dan merekomendasikan ruangan kosong dan boleh dipakai. 
16 Desember 2014, panitia penyelenggara menyebarkan surat undangan ke tiap-tiap kampus dan organisasi ekstra yang berada di Pandeglang dan sekitarnya. 
18 Desember 2014, pamflet acara film Senyap di tempel di majalah dinding (mading) kampus. Kemudian pada malam harinya, panitia kembali mengadakan rapat, nobar kembali dan diskusi untuk membahas soal isi dan teknis acara.
19 Desember 2014, pamflet yang telah ditempel hilang. Menurut Yana, pengelola kantin STISIP BR, pamflet dicabut oleh Masroni, pihak akademik.
20 Desember 2014, 4 aparat kepolisian sudah berada di Kampus STISIP BR untuk menanyakan acara pemutaran Film SENYAP kepada pihak akademik.
pihak Kasat Intelkam polres Pandeglang menelpon salah satu panitia penyelenggara untuk datang dan menghadap kepala kasat Intelkam Polres Pandeglang.
Pukul 10.36 WIB Giant Wildani mendatangi kasat Intelkam Kampus. Dalam penuturannya, semalam pihak Intelkam mendapat laporan soal akan diadakannya pemutaran Senyap yang dianggap beresiko. Akhirnya, pihak kampus membatalkan izin lisan yang sudah diberikan untuk pemutaran Senyap. Kemudian, aparat kepolisian mendatangi kampus STISIP BR untuk mengawasi agar pemutaran film Senyap dibatalkan. 
Dengan alasan keamanan, pihak kampus beserta Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tidak mengijinkan pemutaran Film SENYAP di kampus STISIP Banten Raya, karena sebelumnya ada intimidasi dari aparat.
Pukul 19:00 WIB ketua RT Perum Mandiri Asri tempat sekretariat PERMAKS bersama anggota TNI mendatangi kontrakan yang kami tinggali. Mereka menanyakan kegiatan kami sehari-hari, dan mengatakan ada pihak aparat yang melapor ke ketua RT bahwa kegiatan kami berbau unsur komunisme. 
Pukul 23:30 WIB BEM meminta pertemuan dengan panitia penyelenggara, disitu juga hadir pihak akademik, Masroni.
BEM menuturkan karena alasan keamanan dan kampus tidak mau memberikan ijin, BEM menolak untuk pemutaran film SENYAP di kampus STISIP BR.
Situasi menjadi tegang ketika pihak pihak akademik yg diwakili Masroni mengatakan kepada Muhamad Khotim Ali kejadian ini membuat malu Kampus, dan dia mengancam akan mengeluarkan Muhamad Khotim Ali dari Kampus STISIP BR.

Konsolidasi Rakyat Ujung Kulon, Memperjuangkan Hak Atas Tanah



Dari perintah seseorang MC dengan menggunakan Sound, sejumlah masyarakat sekitar Ujung Jaya, tamu undangan dan tokoh masyarakat Ujung Kulon,  akhirnya  berdatangan dan memenuhi lapangan dan duduk di kursi yang sudah disediakan dalam acara Konsolidasi Rakyat Ujung Kulon, berada di kampung Cikaung, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang. Minggu(21/12).

Selain Desa Ujung Jaya, dalam Konsolidasi Rakyat Ujung Kulon ini dihadiri oleh 14 Desa yang terdiri dari Kecamatan Cimanggu, dan Sumur. Selain itu, hadir pula mahasiswa, organisasi dan lembaga yang berada di Banten antara lain: KUMAUNG, JMHI, FPPI, HIMALA UNMA, MAPALAUT, TARUNG, JKPP, SAINS, HUMA, LBH JAKARTA, SAHABAT Ujung Kulon, STUK, AGRA.

Dalam baliho yang terdapat dalam acara tersebut, tertuliskan tuntutan-tuntutan masyarakat antara lain:
  1. Hentikan intimidasi dan kriminalisasi rakyat Ujung Kulon
  2. Bebaskan Damo, Rahmat dan Misdan sekarang juga
  3. Kembalikan hak-hak rakyat Ujung Kulon atas tanah yang dirampas Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), dan
  4. Laksanakan reformasi agraria sejati


Kekecewaan tampak dari masyarakat, karena tidak hadirnya Haryono sebagai kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon(BTNUK), ataupun petugas dan perwakilan BTNUK. “Inalilahi waanainalilahirojiun” tutur Kamirudin, selaku Kepala Desa Ujung Jaya. Masyarakat hilang kepercayaannya terhadap petugas TNUK yang tidak mendukung dan membantu masyarakat Ujung Kulon.

Teriakan-teriakan masyarakat yang hadir terdengar begitu keras ketika mendengar pidato-pidato dan orasi-orasi yang disampaikan oleh tokoh masyarakat Banten Selatan. Semangat yang disampaikan oleh tokoh Banten Selatan, membuat masyarakat semakin yakin akan perjuangan untuk membebaskan nelayan yang ditangkap yakni, Damo, Rahmat dan Misdan. Dan memperjuangkan hak-hak rakyat Ujung Kulon atas tanah yang dirampas TNUK. “Allah tidak akan merubah nasib seseorang, jika bukan kita sendiri yang merubahnya. Perubahan itu perjuangan, usaha untuk mengambil kembali tanah kita itu perjuangan” ucap Sahri, selaku Tokoh Banten Selatan.

Budi, dari Aliansi Gerakan Reforma Agraria(AGRA) menghimbau agar masyarakat tidak perlu takut terhadap BTNUK, karena jumlah masyarakat Ujung Kulon lebih banyak dari petugas TNUK.  Selain itu, didukung oleh Aktivis, mahasiswa dan lembaga atau organ yang mendukung, menambah kekuatan massa lebih banyak dan kuat.

Tidak hanya “kaum Adam” yang semangat dalam perjuangan ini, “kaum Hawa” pun tak kalah semangatnya. Seperti Jamsi’ah yang berorasi, memberikan semangat kepada ibu-ibu agar ikut berjuang untuk mengembalikan hak-hak rakyat Ujung Kulon. Jamsi’ah menuturkan bahwa dirinya rela berkorban, agar tidak ada lagi warga yang ditangkap seperti yang terjadi terhadap Damo. Selanjutnya, warga sepakat untuk membentuk organisasi wanita Ujung Kulon.

Dalam acara Konsolidasi Rakyat Ujung Kulon, dimeriahkan pula oleh seseorang mahasiswa yang membacakan puisi ciptaan Wiji Thukul, Sajak Pertemuan Mahasiswa, menghibur dan memberikan semangat kepada masyarakat Ujung Kulon.(Candra)


Wednesday, November 12, 2014

Tanah Untuk Rakyat! Tanah Untuk Penggarap



Dengan menggunakan caping  sejumlah pemuda dan petani dari Himpunan Petani Mekarjaya(HTM), Front Perjuangan Pemuda Indonesia(FPPI), dan Jalak Muda berkumpul melakukan aksi di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pandeglang, Rabu(12/11). Massa aksi yang berjumlah sekitar lima belas orang ini melakukan aksi protes penolakan perpanjangan Hak Guna Usaha(HGU) PT.Cibiuk Cibogo(PT.BIBO).  Tidak Hanya di depan kantor DPRD, massa aksi dilakukan di beberapa instansi pemerintah lainnya seperti di Dinas Pertanian dan Perkebunan, Badan Penyelenggara Perijinan Terpadu(BPPT), dan Kantor Lingkungan Hidup.
                Para demonstran menuntut pemerintah kabupaten pandeglang untuk mencabut rekomendasi izin kontrak HGU PT.BIBO, karena pengelolaan kebun karet warisan belanda tersebut sangat jauh sekali untuk mensejahtrakan dan melepaskan kemiskinan masyarakat disekitar perkebunan. “Tidak hanya memeras keringat masyarakat dengan  hanya memberikan upah sebesar dua puluh ribu perharinya kepada pekerja, tapi juga merusak lingkungan sekitar perkebunan terutama sungai yang terkena limbah dari industri pengelolaan karet mentah yang dikelola PT.BIBO” ungkap Andok sebagai mantan pekerja dan masyarakat mekarjaya.
                “Ini bukan kali pertama kami melakukan aksi, sebelumnya juga sudah dilakukan dan kami akan terus melakukan aksi sampai pemerintah menyelesaikan konflik agraria yang terjadi di masyarakat pandeglang” tegas Gian selaku Korlap Aksi. Gian juga menambahkan, bahwa di Jakarta dan Sulawesi juga menggelar aksi atas solederitas yang dilakukan FPPI untuk mendorong Badan Pertanahan Nasional(BPN)  Pusat untuk menyelesaikan konflik agraria yang sedang terjadi di mekarjaya, dan aksi solideritas tersebut juga untuk memberikan semangat kepada masyarakat mekarjaya untuk terus berjuang sampai tanah digunakan untuk kepentingan rakyat.
                Aksi massa pun menuntut agar dengan segera mendistribusikan tanah-tanah yang sudah teridentifikasi sebagai tanah terlantar di Pandeglang untuk petani sebagai upaya menciptakan pemerataan kesejahtraan dan keadilan sosial, sesuai dalam Undang-Undang Pokok Agraria(UUPA) No.5 Tahun 1960 yang mendasar pada UUD 1945 pasal 33 ayat 3 bahwa ”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya adalah dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. PT.BIBO yang menguasai lahan perkebunan yang luasnya meliputi dua Kabupaten, yakni Kab.Pandeglang dan Kab.Lebak sangat jauh sekali dari tujuan UUPA dan hanya mensejahtrakan segelintir orang saja, Lahan yang seluas 530,23Ha perkebunan karet menurut rekomendasi dari Badan Pertanahan Nasional tahun 1989 perlu dikaji ulang.
Situasi para massa aksi semakin memanas ketika massa tidak bisa menemui perwakilan dari DPRD Kab.Pandeglang, yang dihalangi oleh Satpol PP dan polisi keamanan yang sedang mengawal aksi massa. Menurut Pak Sarno selaku polisi yang mengawal aksi menuturkan “Didalam gedung sedang melakukan sidang paripurna, sehingga tidak bisa datang menemui aksi massa”. Karena tidak bisa menemui perwakilan dari DPRD, Para aksi massa memberikan surat pemberitahuan untuk melakukan audiensi dengan DPRD Kab.Pandeglang.
Dalam akhir orasinya, demonstran menuntut akan melakukan aksi kembali dengan massa yang lebih banyak apabila tuntutan mereka terhadap PT.BIBO dalam menghentikan kontrak HGU tidak dilakukan secepat mungkin.(Candra)

Monday, November 10, 2014

Suara Hati Pada Ibu Pertiwi

Nurhadi Candra Ningrat


Terhempas angin laut
Riak air menghantam karang
Merias indah pantai 
Lenyapkan pekik-pekuk problema sosial

Pekikan hati nan keras
Sekeras hantaman karang
Lenyap dengan panorama pantai
cipta sang ilahi beri hati

samudra membentang cakrawala
terdengar siak camar
mengamati relung hati
lihat arus lenyapkan rusuh hati
  
rasa karsa dalam diri
berbakti pada negri
tegar menghadapi
demi ibu pertiwi.