Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Sunday, April 19, 2015

Mimpi Seorang Calon Presiden Mahasiswa

Aku masih ingat, di tahun 2013, aku—Nurhadi Candra Ningrat—masuk perguruan tinggi. Perguruan tinggi itu bernama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Banten Raya Pandeglang. Setelah terdaftar sebagai mahasiswa STISIP-BR dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM): 301 1314 051—sebelum kegiatan perkuliahan dimulai—kampus STISIP-BR menggelar Pelatihan Jurnalistik. Dengan semangat mahasiswa, aku mengikuti seminar pelatihan tersebut selama dua hari.  

Setelah Pelatihan Jurnalistik tersebut selesai, maka dibuatlah Jurnalis Kampus (JK). JK ini adalah organisasi intra kampus yang merupakan media komunikasi dan informasi kampus STISIP-BR. Aku pun terpilih sebagai Ketua JK. Dalam perjalannanya, JK terhenti beberapa bulan kemudian. Karena anggota JK satu persatu mengundurkan diri. Dan JK ini dirasa tidak sesuai dengan tujuan awal didirikan.

Akhirnya, aku memilih untuk mendirikan organisasi ekstra kampus. Organisasi itu bernama Perkumpulan Mahasiswa Kritis Banten Raya atau disingkat dengan PerMaKs-BR. Anggota Organ Ekstra ini adalah mahasiswa yang kuliah di kampus STISIP-BR.  

Di organisasi ini, kembali aku menjadi ketuanya. Dengan slogan: Berfikir Kritis dan Madju, mengusung Visi: Revolusi Pendidikan, PerMaKs menyuarakan pentingnya pendidikan, dengan cara berdiskusi, menulis dan aksi. PerMaKs juga mempunyai media pers cetak dan media sosial.
Dengan menerbitkan Bulletin, yang awalnya bernama Banten Muda dan kini menjadi Respoeblica. Kemudian, PerMaKs menerbitkan Newsletter yang bernama Ikra. Dalam pencetakan Bulletin, PerMaks menggunakan biaya kolektifitas anggota PerMaKs. Selain itu, PerMaKs juga sering menggelar seminar-seminar di kampus STISIP-BR dengan biaya dari kolektifitas anggota PerMaKs –Tanpa biaya dari kampus. Seminar dan diskusi tersebut diantaranya seminar Hari Tani Nasional yang dihadiri oleh organisasi ekstra kampus yang berada di wilayah kampus Pandeglang dan sekitarnya.


Seperti dengan nama organisasi ekstra ini, aku melihat ada yang kurang sebagai mahasiswa yang terdaftar di Kampus STISIP-BR.


Pertama, Kampus STISIP-BR tidak mempunyai wadah untuk menampung minat dan bakat mahasiswa serta potensi-potensi yang terdapat pada diri mahasiswa. Oleh karena itu, PerMaKs merencanakan membuat UKM di Bidang Olahraga yakni UKM Mapala. Namun, ternyata di semester lima ada yang akan menggagas pula. Akhirnya, kami pun bersama-sama untuk mengadakan Kongres pembentukan UKM Mapala, yang kahirnya terbentuklah UKM yang bernama Pendaki Alam(PENA).
Kedua, dikampus STISIP-BR belum terbentuk Himpunan Mahasiswa Jurusan(HMJ) Prodi Administrasi Negara. Yang kemudian, PerMaKs menggagas untuk membentuk HMJ-AN.


Akhir-akhir ini, kampus STISIP-BR, aku rasa, didalam Badan Eksekutif Mahasiswa(BEM) belumlah memberikan hal yang terbaik pada mahasiswa dan lembaga. Belum terlihat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang membangun terhadap mahasiswa. Aku rasa BEM yang sebelumnya kurang bergairah—kurang darah—dalam berdinamika di kampus. Oleh karena itu, aku—Nurhadi Candra Ningrat—mencalonkan sebagai Presiden Mahasiswa(Presma) dengan rekan: Rini Artini—calon wakil Presma periode 2015-2016 dengan No.urut 1.

Aku punya mimpi, bahwa mahasiswa STISIP-BR dibawah kepemimpinanku menjadikan mahasiswa yang Kreatif, Inovatif, Kritis dan Maju, sesuai dengan Visi-ku menjadi Presma STISIP-BR.
Kreatif
Kreatif disini, dengan membuat kegiatan-kegiatan yang menumbuhkan kreatifitas mahasiswa agar menjadi mahasiswa yang mandiri dan siap mengantisipasi arah pengembangan bangsa.  Dengan ikut serta dalam program yang dibuat Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi(Dikti) yakni Program Kreatifitas Mahasiswa(PKM) dalam Bidang: Penelitian, Kewirausahaan, Pengabdian Kepada Masyarakat, Penerapan Teknologi, Artikel Ilmiah, Gagasan Tertulis dan Karsa Cipta. Oleh karena itu, dengan menggelar acara Diskusi, Membaca dan Menulis sehingga menjadikan mahasiswa yang kreatif dan intelektual dalam bertindak.
Inovatif
Mengadakan hal-hal baru, memecahkan masalah mengenai pendidikan, penelitian dan pengabdian, dengan mengadakan kegiatan yang meningkatkan Soft skill mahasiswa, dan membuat Unit Kegiatan Mahasiswa sebagai wadah minat bakat mahasiswa. Dengan begitu, munculah mahasiswa-mahasiswa yang inovatif.
Kritis
Dengan diselenggarakannya seminar-seminar atau diskusi-diskusi diharapkan adanya mahasiswa-mahasiswa kritis.  Dengan cara melakukan penelitian-penelitian, diharapkan mahasiswa dapat membantu permasalahan pemerintah.  Dan juga menjadi  Agent of Change atau kontrol sosial.
Maju
Dengan Visi dan Misi yang telah dipaparkan berharap, dengan menumbuhkan kesolidan mahasiswa dan bergerak maju, mahasiswa STISIP Banten Raya maju sebagai insan-insan intelektual.



Namun, semua itu hanyalah dongeng semata apabila mahasiswa STISIP-BR tidak mendukung aku di pemilihan presiden mahasiswa yang dilaksanakan pada hari kamis, 23 April 2015 untuk mahasiswa Reguler dan hari Sabtu, 25 April 2015 untuk Mahasiswa Non Reguler. Oleh karena itu, aku minta dukungan dari rekan-rekan mahasiswa STISIP-BR. Jangan lupa pilih aku di No.urut 1(Satu).(Cn/Res)

Friday, December 26, 2014

Surat Untuk Ibu Pertiwi, Kabar Dari Rakyat Ujung Kulon

Kepada Ibu Pertiwi, surat ini aku sampaikan. Dengan rasa hormatku padamu, izinkan aku menceritakan sedikit kisah kepadamu, melihat sisi lain bangsa ini. Saya akan tunjukan kepada Ibu Pertiwi dan seluruh anak bangsa, bahwa kemerdekaan yang telah sampai pada 69 Tahun ini, belum dirasakan oleh masyarakat. Salah satunya yang berada di ujung barat pulau Jawa. Ya, di Ujung Kulon. Kecamatan Sumur, Pandeglang. Mungkin, air mata ibu akan berlinang juga terlara-lara mendengar dan melihat kejadian ini. Melihat hutan, gunung, sawah dan lautan simpanan kekayaan. Namun, mereka tidak merasakan kekayaan tersebut.

Dimulai pada tanggal 3 oktober 2014, tepatnya hari Jumat Pukul 11:00, nelayan yang bernama: Damo, Rahmat dan Misdan di tangkap oleh petugas Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Dengan tuduhan menjaring hewan yang dilindungi dan masuk dalam kawasan Ujung Kulon.

Lihatlah, wahai Ibu Pertiwi..!!. Saya pilu, melihat kejadian ini. Indonesia memang negara yang sangat kaya, aku akui itu. Namun, tidak untuk warga Ujung Kulon. Mereka tidak bisa merasakan dan menikmati kekayaan alam yang ada. Padahal, Damo, Rahmat dan Misdan hanya mengambil beberapa ikan untuk dijual, untuk menghidupi keluarganya. Mereka melaut terpaksa karena untuk mempersiapkan kebutuhan hari Raya Idul Adha. Peralatan untuk menangkap ikan pun masih tradisional. Bahkan, diantara mereka bertiga hanya dua sampai tiga kali melaut. Sebelumnya mereka berprofesi sebagai tani. Akan kebutuhan yang mendesak, mereka terpaksa melaut.

Apabila masyarakat Ujung Kulon tidak bisa menikmati kekayaan alam, lantas untuk siapa kekayaan alam tersebut?. Aku masih ingat apa yang Ibu katakan padaku. Bahwa ”Bumi, air dan udara dan kekayaan alam yang ada didalamnya dikuasai oleh negara, dan dipegunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Namun liahtlah, itu tidak seperti kenyataan yang Ibu katakan. Lantas, kekayaan alam tersebut untuk kemakmuran dan kesejahtraan rakyat yang mana? Aku tak kuasa apabila mendengar dan melihat keadaan seperti ini. Apakah dengan alasan melindungi hewan dan hutan? Lantas, apakah mereka lebih mementingkan hewan dari pada kehidupan manusia?. Tak kusangka, air mataku berlinang. Apakah ibu bisa merasakannya juga?, Kepahitan Rakyat Ujung Kulon.

Melihat kejadian itu, harus ada tindakan. Oleh karena itu, Saya dan teman-teman turun kejalan bersama masyarakat Ujung Kulon, keluarga korban dan organ mahasiswa. Pada tanggal 17 November 2014 menuju pengadilan Pandeglang, bertepatan dengan sidang yang pertama. Ada yang membuat saya tercengang. Seseorang yang berorasi dengan penuh emosional. Terdengar kekecewaan terhadap pemerintah; warga Ujung Kulon yang tertangkap karena hanya mengambil kepiting untuk menghidupi keluarganya. Namanya Kusroni, salah satu anak bangsa yang mempunyai semangat juang. Hati saya pun bergetar ketika mendengar orasinya. Membuat saya yakin akan perjuangan ini. Membantu pembebasan Rakyat yang terbelenggu TNUK.

Setiap ada persidangan kami pun hadir untuk melakukan aksi. Namun, pada tanggal 9 Desember 2014, sidang yang ke-4 kalinya ini Mengalami musibah terhadap warga Ujung Kulon. Mobil yang mengantarkan warga untuk aksi di pengadilan terjadi kecelakaan. Yang berakibatkan 20 orang warga luka-luka, 17 orang luka ringan dan 3 orang luka parah. Namun, aksi untuk mendukung pembebasan Damo Cs harus tetap berjalan. Lagi-lagi saya dibuat tercengang oleh Kusroni. Ketika berorasi, dia terlihat menggeram. Bahkan, dengan lantang dan tegas dia berteriak “saya rela mati, asal Damo, Rahmat dan Misdan di bebaskan sekarang juga”. Mungkin dia  terpukul melihat warga Ujung Kulon mengalami kecelakaan. Demi membantu pembebasan mereka harus mengalami rasa sakit dan berdarah-darah.

Lihatlah Ibu Pertiwi, mereka harus mengeluarkan darah demi memperjuangkan pembebasan Damo, Cs. Dan tidak hanya itu, mereka berjuang agar tidak ada lagi Damo-Damo, Cs selanjutnya yang ditangkap oleh TNUK. Dan itu harus diperjuangkan, walau nyawa jaminannya. Agar hal ini tidak terjadi lagi oleh anak-anak bangsa selanjutnya.

Kesedihan dirasakan ketika mengunjungi korban yang parah di rawat RS Pandeglang. Aku tak kuasa melihatnya Ibu. Aku tak bisa menahan kepahitan ini. Apalagi melihat raut wajah keluarga korban, yang terpukul melihat kejadian ini. Cobaan apalagi yang akan kau berikan ya Tuhan. Sudah cukup derita ini, derita terhadap Rakyat Ujung Kulon. Sehingga saya terisak-isak, menghentikan sejenak menulis ini. Tanganku bergetar, sehingga tulisanku dengan pena ini tak berarah . Kertas untuk menulis pun tak kusadari tertetes air mata, sehingga melunturkan kata yang tertulis pena.

Saya mengalami kelemahan tubuh, karena sering bergadang. Namun, hal ini tidak mengurungkan semangat perjuangan. Pada malam sabtu tanggal 20 Desember 2014, saya berangkat menuju Ujung Kulon Bersama Teman-teman untuk menghadiri Konsolidasi Rakyat Ujung Kulon yang akan dilaksanakan pada hari Minggu. Setelah empat jam perjalanan, saya sampai pada tujuan. Bertempatkan di kampung Cikaung, desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang. Pertama saya injakan kaki disana, saya melihat baliho yang sangat besar yang bertuliskan tuntutan-tuntutan Rakyat Ujung Kulon: Hentikan intimidasi dan kriminalisasi rakyat Ujung Kulon; Bebaskan Damo, Rahmat dan Misdan sekarang juga; Kembalikan hak-hak rakyat Ujung Kulon atas tanah yang dirampas Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dan Laksanakan reforma agraria sejati. Selain itu saya melihat dan beristirahat dipanggung sederhana, beratapkan terpal dan darisan meja-meja untuk alas.

Pada hari minggu pukul sebelas acar pun dimulai. Banyak sekali masyarakat yang hadir dalam acara ini, yakni dihadiri oleh dihadiri oleh 14 Desa yang terdiri dari Kecamatan Cimanggu, dan Sumur. Selain itu, hadir pula organisasi mahasiswa dan lembaga yang berada di Banten antara lain: KUMAUNG, JMHI, FPPI, HIMALA UNMA, MAPALAUT, TARUNG, JKPP, SAINS, HUMA, LBH JAKARTA, SAHABAT Ujung Kulon, STUK, AGRA. Serta hadir tokoh Banten Selatan: H. Ali Balfas, Tarim, M. Sahri. Banyaknya orang yang mendukung membuat perjuangan ini semakin kuat. Lihatlah Ibu Pertiwi, warga Ujung Kulon tidak sendiri. Kami berkumpul serta menyatukan pikiran dan kekuatan  semangat juang untuk mendapatkan kembali hak-hak Rakyat Ujung Kulon yang dirampas oleh TNUK. Hal ini membuat saya tak terlarut dalam kesedihan. Namun, membuat saya dan Rakyat Ujung Kulon semakin bersemangat dalam berjuang.

Dalam acara ini, banyak orang yang berpidato dan berorasi. Namun, ada satu orang yang lagi-lagi menggetarkan hati saya, Ibu Pertiwi. Dia adalah ibu Jumsi’ah, Ibu Pertiwi!. Seorang nenek-nenek yang semangat juangnya tak pudar sama sekali. Ketika beliau berorasi, dengan pekikan emosional, membuat tangan saya bergetar ketika memegang kamera seraya merekam. Teriakannya yang bergumam, terdengar keras oleh telinga saya. Seketika hati saya menjadi bergetar mendengarnya, dan menahan isak haru, menahan air mata yang akan menetes. Saya berpikir, beliau walaupun sudah tua, namun, semangat tak gentar. Dan saya yang masih muda, tak pantas untuk lemah dalam berjuang.

Setelah itu, dilanjutkan dengan ceramah yang suarakan oleh KH. Sarmedi, salah satu tokoh agama islam di Ujung Kulon yang ikut berjuang. Tidak hanya berceramah, namun ikut berjuang dari awal mengikuti perkembangan persidangan. Bahkan ikut melakukan aksi kejalan. Membuat saya terkenang pada tokoh-tokoh ulama seperti KH. Achamad Chatib dan H. TB. Emed putra Kiyai Asnawi Caringin. Pada saat pemberontakan ulama-komunis Tahun 1926 melawan kolonial Belanda dan para pejabat: Bupati atau Pamong Praja(berasal dari luar Banten). yang selalu tunduk pada kehendak pihak kolonial, sekalipun mengorbankan kepentingan rakyat. Ibu Pertiwi, Mungkinkah sejarah akan terulang kembali!!.

Kemudian, setelah malam tiba. Masyarakat Ujung Jaya menonton Film Soekarno untuk menghibur dan menyemangati perjuang ini. Dan masyarakat pun antusias melihat beramai-ramai sampai pada pukul sebelas malam, diakhiri dengan turunnya hujan.

Esok Hari, saya mengunjungi keluarga Damo dan Rahmat, yang memang masih bersaudara serta rumahnya pun berdekatan. Pertama saya bertemu dengan kakak ipar dari Damo, yaitu Bapak Usup. Saya mendengarkan cerita bagaimana kronologi Damo, Rahmat dan Misdan sampai bisa tertangkap oleh petugas TNUK. Setelah itu, saya menemui istri dari Damo di rumahnya yang sederhana; rumah panggung dan berdindingkan bilik. Dengan suara tertahan-tahan, Juminah bercerita tentang kehidupannya setelah ditinggal Damo yang di bui. Juminah yang sedang hamil muda ini hanya dua kali berjumpa dengan suaminya di bui. Bukan karena tidak mau, namun Juminah tidak punya cukup uang ongkos ke Pandeglang. Ketika saya bertanya dengan menyebutkan nama Damo, wajahnya pucat dan lemas. Seketika, saya pun ikut merasakan pukulan dari keterpisahan mereka berdua. Melihat hal itu, saya tidak banyak bertanya.

Lihatlah Bu..!! keluarga yang kesakitan; terlara-lara. Apakah tega melihatnya? Padahal, Damo, Rahmat dan Misdan berjuang untuk menghidupi keluarganya. Karena peraturan yang tidak memihak pada Rakyat Kecil, akhirnya mereka yang menjadi korban.

Saya berjalan berserta kepiluan menuju rumah Opur yang menjadi korban kecelakaan yang paling parah. Sesampainya dirumah yang sama keadaanya dengan rumah Damo, saya bertemu Opur yang tengah berbaring lemas. Dengan bermaksud menyambut saya, dia mengangkat perlahan-lahan dengan menahan sakit lengan kanannya sembari berjabatan. Luka-luka yang masih tampak di kepala, lengan kanan dan kiri menunjukan sakitnya begitu parah. Ditambah dari keterangannya bahwa lehernyapun patah sehingga tidak bisa banyak bergerak. Saya langsung berfikir dalam benak hati, mungkin dengan kecelakaan ini akan membuat Opur akan kehilangan semangat juangnya. Namun, sangkalan itu tidak tepat. Dengan terjadinya kecelakaan ini, yang membuat dirinya terbaring tidak menggoyahkan perjuangannya dan tidak menyesali kecelakaan tersebut (Hal tersebut dikatakan juga oleh korban-korban kecelakan lainnya).  Opur yang berprofesi petani ini akan tetap berjuang walau nyawa menjadi taruhannya. Demi mengembalikan hak-hak Rakyat Ujung Kulon yang terampas TNUK.


Ibu Pertiwi, ini Perjuangan Rakyat Ujung Kulon yang gigih. Mengorbankan nyawanya untuk membebaskan belenggu TNUK. Tidak hanya Opur, namun ribuan warga Ujung Kulon yang terdiri 14 Desa dari kecamatan Sumur dan Cimanggu yang akan berjuang sampai titik penghabisan untuk mendapatkan hak-haknya walaupun sampai berdarah-darah. Jangan sampai Rakyat Ujung Kulon menjadi hakimnya sendiri: Utang padi dibayar padi; Utang ikan dibayar ikan; Utang darah dibayar darah. Jangan sampai semua itu dipaksa terjadi di Bumi Ibu Pertiwi..!!.(Candra)

Tuesday, October 28, 2014

Gelora Semangat Sumpah Pemuda Untuk Indonesia



Tiga ratus limapuluh tahun lebih Indonesia dijajah oleh negara-negara kolonial, Belanda dan Jepang. Penindasan dan penghisapan atas tanah air dan Rakyat Indonesia dipraktekan selama itu oleh negara-negara kolonial, terutama kolonial Belanda. Berawal dari monopoli perdagangan Verenigde Oostindische Compagnie( VOC) di Nusantara, tanam paksa (cultursteel), kerja paksa; kerja rodi sampai dengan Romusha yang dilakukan kolonial Jepang terhadap Indonesia, tampaknya tidak mampu menyadarkan Rakyat Indonesia untuk melawan menuntut kemerdekaan seratus persen seperti gagasanya Tan Malaka dan Jenderal Soedirman.
 Ketidakberdayaan Bumiputra (Indonesia) untuk melawan kolonial Belanda pada waktu itu, dikarenakan belum adanya kaum intelektual yang lahir dari masyarakat Bumiputra, kebodohan adalah penyebab utamanya. berawal dari diberlakukanya politik etis pada abad XX di Hindia Belanda (Indonesia) dan pendidikan modern untuk masyarakat Bumiputra, muncul beberapa tokoh pembaharu dan kaum intelektual Bumiputra, seperti Thirtoadisoerjo, Soekarno dan beberapa tokoh lainya. Sebelum adanya kaum intelektual dan tokoh pembaharu di Hindia Belanda, dan sebelum paham nation-state terkenal di Hindia, perlawanan terhadap kolonial Belanda yang terjadi di beberapa daerah bukan atas nama Indonesia, melainkan atas kepentingan daerahnya masing-masing yang sudah sangat membenci kolonial belanda atas perlakuan yang semena-mena terhadap Bumiputra, misalnya pada perang diponegoro, pemberontakan petani di banten, atau perlawanan terhadap kolonial belanda di aceh dan dibeberapa daerah lainya. Baru kemudian setelah munculnya kaum intelektual dan tokoh pembaharu di Hindia, serta Bumiputra yang mendapat pendidikan, konsep mengenai Bangsa dan nasionalisme atau paham tentang kecintaan terhadap tanah air mulai terkenal di Hindia. Perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda menjadi lebih masif dan serentak, serta memiliki tujuan yang sama yaitu menginginkan Indonesia merdeka.
Diawali perlawanan pemuda, buruh dan tani pada tahun 1926 yang di pelopori Partai Komunis Indonesia (PKI) menandakan bahwa sudah ada gagasan nasional pada bumiputra di Hindia-Belanda. Dua tahun kemudian Kongres pemuda II di gelar dalam dua hari: 27-28 Oktober 1928 di batavia (Jakarta), diiringi dengan pertama kalinya kehadiran lagu kebangsaan Indonesia yang diciptakan Wage Rudolf Supratman melalui biola yang menjadikan gelora semangat juang pemuda waktu itu kian memuncak. Pada saat itu pula pemuda menyatakan diri bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu Indonesia. Menunjukan bahwa rakyat Indonesia benar-benar menginginkan suatu negara yang merdeka, Trilogi akan kedahsyatan yang melahirkan semangat juang para pemuda pada zaman kolonial Belanda.
Delapan puluh enam tahun sumpah pemuda terlewati, namun akankah sama sumpah pemuda waktu itu dengan keadaan Indonesia hari ini Mengenai: Tanah Indonesia, Bangsa Indonesia Dan Bahasa Indonesia. apakah hari ini indonesia masih memperjuangkan tanah indonesia?, apakah sampai sekarang indonesia masih berbangsa yang satu?, apakah sampai sekarang indonesia menjunjung bahasa persatuan? Ini yang kemudian menjadikan sebuah refleksi bagi seluruh rakyat indonesia akan perjuangan mempertahankan tanah indonesia, dan persatuan bangsa Indonesia, terutama bagi pemuda terpelajar hari ini.
Tiga ratus lima puluh tahun dijajah oleh bangsa asing serta hidup dalam kemiskinan dan kebodohan ternyata tidak mampu memberikan pelajaran bagi bangsa ini, lagi-lagi kemiskinan dan kebodohan serta bangsa kuli masih saja melekat sampai hari ini. Enam puluh sembilan tahun indonesia merdeka, kemerdekaan yang seharusnya menjadi jembatan emas ternyata hanya menjadi cita-cita belaka. Pola pikir masyarakat Indonesia masih tetap sama, pola pikir mistis tidak dapat dilenyapkan dari masyarakat Indonesia, miskin masih saja dianggap sebagai takdir Tuhan yang tidak bisa dirubah, inilah yang kemudian membuat masyarakat Indonesia masih saja terjerat dalam rantai kemiskinan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) banten, pada bulan Maret 2014 mencapai 62283 penduduk miskin dan pengangguran di Indonesia menurut BPS Nasional mencapai 7147069 pengangguran. Masihkah kita menganggap bahwa ini merupakan bagian dari sebuah takdir dan cobaan dari Yang Maha Esa?.
 Era penjajahan fisik sudah selesai, kolonialisme dan imperialisme berubah menjadi ramah, dengan memanfaatkan penguasa bangsa ini, negara-negara kolonial berhasil masuk untuk menghisap kembali dengan wujud yang berbeda, yaitu modal. perusahaan asing di Indonesia semakin lahap mengambil keuntungan dari sumber daya alam Indonesia yang melimpah, Rakyat Indonesia adalah pekerjanya, dengan upah yang sangat murah. Rakyat Indonesia kini mulai kembali terasing atas tanah dan air di negerinya. Cita-cita para pendiri bangsa Indonesia yang ada dalam undang-undang dasar 1945 pasal 33 telah menjelaskan bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”, juga pada UUD pasal 31 menyatakan “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”, kemudian dalam pasal 27 menyatakan “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”, ternyata hanya menjadi cita-cita belaka bukan realita.
Banyaknya Perusahaan Asing yang mengambil sumber daya alam kita, pengetahuan yang tidak merata karena mahalnya biaya pendidikan, serta kemiskinan dan pengangguran yang terjadi di indonesia adalah penghianatan untuk kesekian kalinya pemerintah atas rakyat dan UUD 1945 yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa. Oleh karena itu, untuk menggapai cita-cita bangsa akan tanah air Indonesia, melalui sejarah terlahirnya sumpah pemuda ini semoga  terlahir pemuda-pemuda revolusioner dari kaum terpelajar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka 100%. Merdeka!!!(Candra)

Saturday, September 6, 2014

Nasionalisme Keliru

                   
             Oleh : Muhamad Khotim Ali

Bangsa dan Negara sering disandingkan dalam suatu ungkapan seseorang. Retorika yang bernada tentang Nasionalime itu seakan tidak pernah bisa dipisahkan, seperti dalam ungkapan “berbangsa dan Bernegara”. Namun, persandingan dua kata itu seolah tidak ada persoalan dari keduanya.

                Bila kita lihat, sejarah mencatat jelas dalam benak masyarakat Indonesia bahwa banyak daerah-daerah yang –seharusnya—menjadi satu bangsa ingin melepaskan diri dari pulau jawa. Artinya, jika melihat pada keadaan indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan banyak sekali suku-suku, apakah kata “satu bangsa satu negara” masih rasional untuk diterapkan, mengingat sistem yang diterapkan di Indonesia (baca: Undang-Undang) sangat tidak berpihak pada mereka.

                 Sedikit mengingat kebelakang bagaimana Aceh ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pemberontakan DI/TII  ditahun 1953 yang menuntut diterapkannya hukum syari’at islam yang kemudian baru bisa dirasakan setelah rezim Orba lengser melalui otonomi daerah. Lebih dari itu kemudian terjadi kembali pemberontakan dari kelompok sporadis yang dinamai Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dipimpin Hasan Tiro dengan tuntutan yang lebih ekstrem, yakni melepaskan diri dari indonesia.

                Diakui atau tidak, keinginan GAM melepaskan diri dari Indonesia dikarenakan kejengahan rakyat Aceh atas eksploitasi sumber daya alam oleh kapitalis, baik lokal ataupun asing. Ketidakmampuan indonesia mengelola sumber daya alamnya sendiri sehingga harus berada dikangkangan ekonomi kapitalis dijadikan alasan untuk melepaskan diri dari NKRI. Ditetapkannya Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM), dimana rakyat Aceh banyak yang mendapatkan tindakan refresif dari militer dengan tuduhan sebagai anggota GAM. Semua itu justru membakar semangat rakyat Aceh untuk semakin memassifkan perlawanan menuju Aceh merdeka.

                Aceh hanya satu dari sekian daerah yang menginginkan lepas dari NKRI, bagaimana Organisasi Papua Merdeka (OPM), Republik Maluku Selatan (RMS), hingga Timtim yang sudah berhasil melepaskan diri dari NKRI dan berharap mereka bisa lebih membatasi kepada nekolim sehingga kedaulatan rakyat berada ditangan mereka sendiri.

                Jika kita memahami konteks sejarah yang terjadi di Indonesia, tentu kita akan mempertanyakan dimana sumpah berbangsa satu-bangsa indonesia tidak lagi berlaku. Bagaimana tidak, penyelenggara negara (baca: pemerintah) yang paling getol mempropagandakan nasionalime tetapi menghalalkan darah anak bangsanya sendiri yang kemudian menimbulkan dendam ideologi dari anak bangsa satu dan yang lainnya. Padahal salah satu tugas negara adalah menjamin dan melindungi hak hidup warga negara dengan kecintaan terhadap sisi kemanusiaan.

                Nasionalisme kita adalah ‘Nasionalisme sempit’; nasionalisme yang tidak berjalan dengan rasa kecintaan terhadap Indonesia.  Bahkan dengan sinis Erich Froman menyatakan , “Nasionalisme adalah bentuk incest zaman ini, berhala kita, dan patriotisme adalah cara memujanya, cinta untuk sebuah Negara, jika bukan merupakan bagian dari cinta kemanusiaan, bukanlah cinta sama sekali, melainkan sekedar menyembah berhala”.         
Nasionalisme yang begitu mengakar dalam masyarakat politik Indonesia dengan gampang bisa di tangkap ketika mendengar atau membaca bagaimana seseorang dengan begitu mudahnya mempersandingkan bangsa dan Negara.  
dalam ungkapan “  demi kehidupan berbangsa dan bernegara” atau “menjalankan rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan Negara” sebagaimana hampir setiap hari muncul dalam percakapan resmi. Bangsa dan Negara bersanding seolah-olah tidak dan tidak pernah ada soal antara keduanya, Bila kita masuk lebih dalam kesejarah maka akan tampak bahwa Bangsa, kebangsaan, baik dalam dirinya sendiri maupun dalam hubunganya dengan Negara menimbulkan keruwetan yang luar biasa. Pada saat tertentu dirasakan bahwa dobrakan modal internasional sebegitu rupa sehingga berbicara sekali lagi tentang nasionalisme  hanya membuang waktu, Nasionalisme adalah darah dan tanah, begitu kata Hittler. bagaimana tidak kita bisa melihat rezim-rezim politik kita terdahulu  dari orde baru sampai sekarang era reformasi , demokrasi, yang katanya era kebebasan berpolitik, berideologi  dan segala macam bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa harus mempermasalahkan genre, tetapi ketika sebagian orang meneriakan segera mengusut tuntas kasus yang selama ini masih janggal semacam pembunuhan PKI 1965 dan masih banyak lagi yang lainya lalu semuanya diam dan seolah-olah tidak tau, malah kebanyakan rakyat Indonesia mengatakan PKI dan antek-anteknya memang bersalah dan pantas menerima semua itu tanpa melihat sisi kemanusiaan,darah  PKI tak ubahnya seperti tumbal untuk melanggengan kekuasaan Orde baru.  ketika runtuhya rezim orde  baru Mei  1998 orang-orang  kembali meneriakan ini adalah jamanya kebebasan dan Gusdur adalah salah satu tokoh  yang ingin mencoba mempraktekan semua itu dengan menggagas mencabut TAP MPR NO ….1965 yang isinya  melarang mendirikan kembali PKI dan Segala macam organisasi yang berbau ideologi  Komunis, lalu reaksi masyarakat terutama umat muslim begitu kerasnya  mengecam ungkapan yang dilontarkan oleh gusdur, mereka berdalih komunis tidak sesuai dengan ajaran islam dan pancasila, apa ini yang namanya  demokrasi? Ya inilah hasil manipulasi  history  orde baru, semacam pembodohan bagi bangsanya sendiri.

     ketika rezim orde baru sampai sekarang rezim orde paling baru  berkuasa,  mereka membiarkan modal internasional masuk ke bumi pertiwi untuk mengeksploitasi ,mengeruk habis sumber daya alam yang ada di tanah air kita untuk dibawa ke negaranya masing-masing,  itulah nasionalisme versi penguasa kita yang tamak akan kekeuasaan dan kekayaan yang selama ini selalu meneriakan nasionalisme. Sekarang, ketika begitu banyak daerah ingin atau sekurang-kurangnya ingin memisahkan diri  dari NKRI,kita bisa ambil contoh Aceh dengan GAM-nya Maluku dengan RMS-nya  dan Papua dengan OPM-nya meneriakan ingin segera melepaskan diri  dari apa itu yang namanya Indonesia, nama asing, aneh, nama berian etnolog dan antropolog asing. Dan seketika itu juga nasionalisme yang dikira sudah mati tiba-tiba menggeliat lagi, para penguasa meneriakan “ jangan biarkan daerah-daerah dengan para pemberontaknya itu  merusak keutuhan  NKRI ini” dan rakyat awam-pun yang tidak tau apa-apa tiba-tiba meneriakan hal yang sama, demi nasionalisme, darah dan nyawapun akan dikorbankan demi keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia ini. Namun bila kita melihat dan menganalisis kejadian yang sebenarnya terjadi di aceh dan daerah-daerah lainya tentu kita akan merasakan kengerian yang di alami oleh rakyat aceh sendiri, sejak berdirinya rezim orde baru yang serba sentralistik.  aceh adalah salah satu daerah yang kekayaanya habis di keruk oleh para pemodal asing dan kompradornya, dan meninggalkan kemiskinanan untuk rakyat aceh sendiri. Berbeda Ketika orde lama berkuasa pemberontakan rakyat aceh dengan DI/TII yang berupaya melindungi dan membangun entitas kultur khas islam di aceh, GAM justru melakukan diskontinuitas yang sangat ekstrim atas sejarah integrasi nasional aceh ke republik. DI/TII masih berbicara dalam konteks Indonesia , GAM melesat jauh dengan cita-cita Negara Aceh Sumatra, dan seketika itu pula Rezim orde baru segera menjadikan Aceh sebagai  Daerah Operasi Militer(DOM) untuk menumpas habis para pemberontak. Namun yang terjadi malah sebaliknya, akibat dijadikanya aceh sebagai daerah oprasi militer (DOM) Rakyat aceh mengalami kekerasan yang tidak manusiawi oleh para militer, Pembunuhan, penyiksaan, penculikan dan pemerkosaan, yang tidak manusiawi  dilakukan oleh para militer kepada setiap rakyat Aceh yang di anggap GAM, dan membakar semangat perlawanan aceh sampai sekarang, Maluku dan Papua mengalami hal yang sama, kemiskinan , darah dan air mata berjatuhan di bumi Maluku dan papua. Jadi wajar ketika beberapa daerah ingin melepaskan diri dari NKRI akibat dari ketidakadilan penguasa yang ada di Jakarta, untuk apa nasionalisme jika tak mendatangkan rasa aman dan perut kenyang  serta kemajuan daerahnya,  Dan nasionalisme untuk Indonesia sudah mati.

    Lalu pertanyaanya apa  itu nasionalisme?  Nampaknya memang kita tengah di uji dalam soal nasionalisme,nasionalisme yang selama ini dipropagandakan adalah “ nasionalisme fisik “ dan “ Nasionalisme romantis “, atas nama Negara dengan segala atributnya dan kebanggaan semunya, darah sesama dihalalkan, kita lebih menghormati selembar kain dua warna dari pada nyawa seorang anak bangsa. Kita telah melupakan bahwa Indonesia dibentuk untuk menghormati, menjamin dan melindungi hak-hak dasar manusia dan nilai kemanusiaan. Situasi dan kondisi sekarang ini mengharuskan kita untuk merenungi kembali akar-akar dan makna kebangsaan serta nasionalisme kita.


   Bahkan dengan sinis Erich Froman menyatakan , “Nasionalisme adalah bentuk incest zaman ini, berhala kita, dan patriotisme adalah cara memujanya, cinta untuk sebuah Negara, jika bukan merupakan bagian dari cinta kemanusiaan, bukanlah cinta sama sekali, melainkan sekedar menyembah berhala”.